Memaknai hakikat berpuasa

Photo by Ali Arif Soydaş on Unsplash

Ramadhan tinggal menghitung hari dan begitu cepat waktu berlalu. Hampir satu bulan lamanya kita berpuasa dibulan yang penuh ampunan ini. Suasana ramadhan hampir hilang ditengah gegap gempita menyambut idul fitri. Hiruk pikuk mudik atau pulang kampung sudah dimulai. Pasar-pasar penuh dengan lautan manusia. Persiapan menyambut idul fitri dipersiapkan matang-matang, dari membuat kue hingga bersih-bersih rumah.

Kita akan selalu merindukan bulan ramadhan bila berlalu. Entah ada sesuatu atau suasana yang tidak bisa kita definisikan yang mungkin tiap-tiap orang mempunyai penafsirannya sendiri. Suasana ramadhan yang selalu dinantikan tak mungkin ada dibulan-bulan lainnya, dari sholat tarawih, buka puasa bersama, ngabuburit hingga berburu takjil yang tak mungkin didapatkan dibulan lain. Suasana-suasana seperti itulah yang akan selalu membawa nostalgia dihari-hari yang akan datang.

Mengenai puasa, mari kita refleksikan kembali apa makna sesungguhnya dari puasa. Puasa secara bahasa artinya “menahan”, secara istilah artinya adalah menahan sesuatu pada waktu tertentu oleh orang tertentu dari perkara-perkara spesifik yang disertai dengan niat. Puasa tak hanya dijumpai pada agama Islam, namun juga agama-agama lain dan aliran kepercayaan-kepercayaan karena dengan berpuasa tak hanya membuat raga sehat tapi juga mendekatkan diri pada Tuhan yang maha esa. Dalam Islam sendiri puasa tak hanya berpuasa pada ramadhan tapi juga mengenal puasa-puasa sunnah antara lain : puasa senin-kamis, puasa daud, puasa 6 hari dibulan syawal dll. Ini menandakan bahwa kedudukan puasa dalam islam sangat-sangat dianjurkan karena tidak hanya bermanfaat secara ragawi tapi juga rohani/spiritual.

Dasar dari berpuasa didasarkan pada surah Al-Baqoroh ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa”. Makna dari surah Al-Baqoroh tadi adalah puasa telah dilakukan sebelum umat Nabi Muhammad. Puasa tidak hanya diartikan sebagai ibadah tapi juga “tradisi” bagi orang-orang untuk melatih spiritual dan untuk kesehatan. Banyak orang menilai bahwa puasa adalah pada waktu-waktu yang ditentukan. Memang secara syariat puasa adalah menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa, dalam Islam waktu berpuasa adalah dimulai dari waktu menjelang fajar hingga maghrib/terbenamnya matahari.

Lalu bagaimana memaknai secara hakikat ?. Puasa secara hakikat justru lebih luas lagi maknanya, yakni merupakan puasa yang dilakukan seumur hidup. Dalam hal ini puasa seumur hidup bukanlah dalam artian tidak makan dan minum seumur hidup, tapi menahan hawa nafsu. Ya, menahan nafsu adalah kewajiban setiap manusia selama hidupnya. Puasa menutup lubang pada tubuh manusia. Puasa mata artinya menutup pandangan dari hal-hal negatif. Puasa telinga artinya menutup dari pendengaran yang kurang baik seperti menguping pembicaraan orang lain. Puasa mulut artinya tak hanya berpuasa dari makan dan minum, lebih dari sekedar itu yaitu menahan diri agar tidak ghibah dan fitnah. Puasa tangan artinya supaya mempergunakan tangan dengan baik seperti bersedekah bukan mempergunakan tangan untuk memukul dan hal-hal yang tidak baik. Puasa kaki artinya supaya mempergunakan langkah-langkah kita ketempat yang baik dan tidak mempergunakan kaki kita ketempat yang tidak baik. Dan yang terakhir adalah puasa kemaluan artinya menahan nafsu birahi.

Begitulah makna berpuasa secara hakikat yang mesti dilakukan seumur hidup. Saya pribadi masih jauh pada tingkatan puasa secara hakikat dan masih merasa tingkatan puasa saya hanya berpaku pada menahan lapar dan haus. Terkadang berpuasa masih saja membicarakan orang lain dan lainnya yang membatalkan pahala berpuasa. Tapi saya dan semoga kita semua senantiasa untuk memperbaiki diri dan bisa berpuasa secara hakikat dengan menjauhkan diri dari ganasnya dunia.

Post Author: dekikurnia